Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 6 Januari 2008, hari Minggu pukul 05.30 pagi, 3 pasang kaki berjalan gontai keluar dari suatu kantor perusahaan multinasional di Gedung Summitmas I lantai 18.Kebetulan sekali, salah satu pasang kaki itu adalah kaki saya, sementara 2 pasang lainnya adalah milik manajer saya dan seorang kolega kerja saya.
Bisa saya katakan saat itu kami tidak baru saja selesai berpesta pora semalam suntuk, dan bisa juga saya katakan, kalau kami tidak baru saja selesai curhat session semalam suntuk di kantor.
Pada hari Minggu jam 05.30 pagi, kami baru saja selesai berkerja lembur semalam suntuk sedari hari sebelumnya. Saya masih ingat, saya datang ke kantor tanggal 5 Januari 2008, hari Sabtu jam 11.30 siang. Sungguh saya tidak menyangka dan tidak pernah menebak apabila saya akan berkerja 18 jam di kantor.
Saya bisa berkata seperti itu sebab sebelumnya, saya berkerja di suatu tempat dimana pekerjaan saya hanya A dan B.
A dan B setiap saat.
A dan B dari jam 08.00 pagi sampai jam 18.00 sore.
A dan B dari hari Senin sampai hari Jumat.
A dan B terus sampai perut mual.
Walaupun saya hampir selalu bisa meninggalkan kantor sebelum hari benar-benar menjadi gelap.
Walaupun saya bisa menerima upah kerja yang cukup besar untuk melakukan pekerjaan A dan B saja sepanjang bulan (tidak perlu sampai C, D, E dan seterusnya).
Walaupun saya tidak pernah harus berkerja berturut-turut sampai keesokan harinya.
It was a pain, insanely repetitive, inflicting great mental pain to a point where I cried due to desperation.
Demi Tuhan, berkerja 3 bulan di kantor produsen keju tersebut serasa bagai saya sudah berkerja berabad-abad (oke, saya sedikit hiperbola disini, but trust me it feels as if I have worked for ages in that office).
Beberapa orang berpikir saya sungguh bodoh, mau-mau saja berkerja di tempat dimana secara fisik dan mental sungguh demanding. Ditambah pula dengan upah pokok yang lebih kecil. Mereka bilang, kalau bukan sakit jiwa, entah sakit apa saya.
Tapi saya tidak peduli, buat saya yang penting saya happy dahulu dalam berkerja, Insya Allah masalah upah kerja bulanan akan bisa mencukupi untuk kebutuhan 1 bulan.
Exposure kerja yang terbuka begitu luas pada berbagai aspek finansial korporat memungkinkan saya untuk belajar banyak dalam waktu yang cenderung singkat. Jujur saja, saya merasa pada saat ini hal tersebut jauh lebih penting daripada segepok upah kerja bulanan (toh kalau dihitung secara total, penghasilan saya hanya turun beberapa ratus ribu).
Tapi saya happy dan saya tidak menyesali keputusan saya, at least sampai hari ini.
Mungkin beberapa orang memang terlahir untuk disiksa (contohnya ya, saya ini).
But at least I am able to work happily, in spite the pain of having to work until 06.30 am in the morning. Insya Allah ini yang dinamakan the joy of working.
(Only God knows if this another case of chronic denial of mine)
0 comments:
Post a Comment